Momen kebahagiaan sederhana masa kecil di area bekas tambang TK6
Selalu ada momen bahagia saat kecil — bukan karena hidup serba mudah, tapi karena hati belum mengenal beban. Saat kecil, aku sering merasa dunia begitu luas dan penuh misteri. Setiap langkah adalah petualangan, setiap angin yang berhembus membawa rasa ingin tahu yang baru. Dan dari semua tempat yang pernah kulewati, tak ada yang lebih melekat di hatiku selain TK nam — sebuah wilayah di mana aku tumbuh, bekerja, dan bermain, dan diam-diam menemukan makna hidup dari alam dan kesunyian.
Aku bukan anak yang penurut disekolah. Mungkin karena sifatku yang manja, keras kepala, dan terlalu jujur pada perasaan sendiri. Aku masih ingat bagaimana akhirnya aku berhenti sekolah karena cekcok dengan almarhum guruku. Saat itu aku marah, tapi sekarang aku tahu, mungkin beliau hanya ingin aku disiplin. Namun aku bersyukur, karena berhenti sekolah bukan berarti berhenti belajar. Dunia menjadi sekolahku, dan kehidupan — menjadi guru yang paling sabar mengajarkan arti bertahan, memahami, dan bersyukur.
Sejak itu, aku ikut orang tuaku bekerja. Kami menambang biji timah menggunakan mesin Robin, mesin kecil yang dulu biasa disebut penyedot air atau mesin genset universalnya. Zaman itu, tambang masih bebas, belum seribet sekarang yang penuh izin dan aturan. Aku yang masih kecil hanya ikut sekadar membantu sebisanya. Tapi sesungguhnya, di sela kerja keras orang tuaku, aku menemukan duniaku sendiri — dunia yang penuh rasa ingin tahu dan keindahan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
SABANA TK NAM DAN LANGIT YANG TAK PERNAH AKU LUPA
TK nam bukan tempat biasa. Di sana, terbentang alamnya seperti dunia fantasi bak film atau anime. Sabana rumput hijau di atas tebing yang melihat Gunung Menumbing dari kejauhan, dan di sisi dataran rendahnya, terbentang dataran rendah dengan hutan lebat serta angin laut yang membawa aroma asin dari arah pantai Kuala Belo. Di situlah aku kecil bermain, tanpa teman, tanpa uang, tapi dengan rasa cukup yang datang begitu saja dari alam.
Aku masih ingat betul momen saat makan siang. orang tuaku, kami hanya membawa bekal sederhana — nasi dan sambal belacan atau sambal terasi universalnya. Tapi rasanya selalu nikmat, apalagi jika dilengkapi jering atau jengkol liar yang tumbuh di sekitar tempat kerja. Tak jarang aku memanjat pohon hanya untuk mengambil beberapa biji saja. Saat itu, aku merasa seperti penjelajah kecil di tengah ciptaan Tuhan. Alam memberiku makanan, udara segar, dan rasa damai yang tak bisa kubeli sekarang dengan apapun.
Setelah makan, sementara orang tuaku tidur siang, aku menjelajahi hutan sekitar. Di sanalah aku menemukan banyak hal yang menjadi kenangan abadi setiap harinya. Salah satunya adalah Tepekong — vihara tua pertama di area pertambangan TK nam. Dari luar, bangunannya sederhana tapi misterius. Aku sering penasaran, ingin tahu bagaimana orang-orang Cina bersembahyang dan mencari tahu sejarah disana. Dan aku senang karna rasa penasaran ku terbayar. Pernah suatu kali aku iseng karna penasaran, dengan polosnya, aku mengambil sebutir jeruk Sunkist dari meja sesajen. Meskipun ada peringatan dari orang tua ku tidak boleh mengambilnya. Dan benar rasanya hambar, bahkan tanpa rasa. Ya sudah, akhirnya ku buang lagi, karna aku pikir makanan persembahan itu sama hal nya seperti makanan saat acara nganggung (hajatan) di masjid. Saat itu aku tak mengerti, tapi kini aku paham: mungkin Tuhan sedang menegurku agar tidak mengambil yang bukan hakku Dan menghormati budaya sesama manusia dengan kepercayaan nya masing-masing.
ANAK KAMPUNG YANG BELAJAR DARI ALAM
Aku sering berjalan kaki jauh, melewati jalan setapak, melanjutkan adventure dari vihara tadi menuju pabrik batu bata merah, karna jaraknya tidak terlalu jauh dan melihat orang-orang bekerja disana. Mereka terkejut melihat anak kecil sendirian dari kampung seberang. Aku hanya tersenyum polos, tidak takut, karena rasa penasaranku lebih besar daripada rasa takutku. Dan akhirnya aku pulang kembali ke tempat kami bekerja di TK nam di tengah perjalanan pulang itu, tiba-tiba aku lapar dan menemukan buah liar berwarna merah di semak-semak pantai — buah kelire.
Rasanya manis asam kelat, menyegarkan di lidah. Kadang aku menggigit dan memecahkan biji nya karna rasanya seperti kacang, ya meskipun berakhir membuat perut ku mules dan mencret karna keracunan makan isi bijinya, Tapi aku spontan bersyukur mengucapkan Alhamdulillah. Entah mengapa, setiap kali aku menemukan sesuatu di alam yang bisa kumakan, selalu ada rasa seperti terpenuhi dari doa yang mengalir tanpa ku paksakan.
Alam seolah tahu kapan aku lapar, kapan aku haus. Di dataran tinggi, aku bisa menemukan buah kemunting yang merah unggu kebiruan, kecil tapi manis. Di lembah, ada buah kelingcut — kecil, hitam, asam manis — seperti permen alami yang tumbuh dari tanah. Dan itu adalah ilmu pengetahuan yang di ajarkan kakek (Atok) dari bapakku mana yang boleh dimakan dan yang tidak, Kadang aku kembali untuk melihat burung kecil yang terjebak di pulut jebakan yang kupasang. Ada rasa kasihan, tapi namanya juga lapar. Dengan hati-hati, aku membakarnya di atas bara kecil, makan pelan-pelan sambil menatap langit. Semuanya sederhana, tapi di sanalah aku merasa paling bersyukur.
Aku belajar, bahwa kehidupan bukan tentang apa yang kita miliki, tapi seberapa besar kita bisa bersyukur atas yang ada. Alam mengajarkanku rasa cukup tanpa harus diminta. Dan di TK nam, aku tumbuh tanpa teman, tapi tak pernah merasa benar-benar sendirian.
TERSESAT DI TENGAH HUTAN
Mungkin karena sering sendirian, aku menciptakan teman khayalan. Sosok seorang nenek kecil yang selalu muncul dari kejauhan, memberi isyarat atau petunjuk arah saat aku tersesat. Kadang, aku merasa dia benar-benar ada kadang tidak. Nenek kecil itu seperti penjaga hutan, seperti roh baik yang menuntunku pulang. Setelah dewasa, aku mulai menyadari bahwa mungkin sosok itu adalah proyeksi khayalan dan imajinasi ku sendiri — Tapi entah mengapa, mungkin dulu masih kurang proyeksi imajinasi ku sampai aku tidak pernah benar-benar tahu wajah nenek khayalan imajinasi ku itu, yah namanya anak-anak yang masih polos dengan khayalan nya. tapi nenek yang benar-benar menyayangi ku dulu adalah almarhumah nenek dari ibuku. Meskipun dia masih ada saat aku melihat dan menciptakan nenek khayalan ku itu yang selalu membimbing dan memberi peringatan tidak untukku melewati sungai rawa-rawa dan jalan tanah bekas tambang di TK nam waktu itu. Jadi seperti anak kecil mengikuti nya seperti film-film dan akhirnya sampai bertemu orang tuaku lagi di lokasi kami bekerja.
Mungkin dia tidak nyata, tapi perasaan yang ditinggalkannya nyata. Setiap kali aku teringat TK nam, aku juga teringat sosok itu — damai, lembut, dan penuh kasih. Seolah alam sendiri menjelma menjadi nenek kecil yang menuntun cucunya melewati jalan pulang, meskipun hanya sekali dalam bahaya karna aku pernah di kejar ular berwarna hitam merah meskipun kecil tapi membuat ku lari terbirit-birit dan membuatku tiba-tiba lompat akrobatik “high jump ala fosbury flop” menyamping ke danau (kolong) bekas tambang karna terlalu jauh untuk berlari memutar di pinggiran danau (kolong). Tapi aku berhasil selamat di tepian, meskipun dengan nafas terengah-engah karna berenang cepat.
RAMADHAN DI TK NAM: ALAM SEBAGAI REZEKI DARI TUHAN
Ramadhan di TK nam adalah kenangan yang tak tergantikan. Kami telat pulang bekerja, tapi selalu ada-ada saja. Saat waktu berbuka hampir tiba dan kami belum sampai di rumah, aku mencari buah liar di hutan sebagai pembuka puasa. Kadang buah kemunting, kadang kelingcut, kadang kelire. Rasanya seperti hadiah kecil dari alam untuk anak kecil yang sabar menunggu azan. Tidak ada sirup limun, tidak ada kue, tapi ada rasa nikmat yang luar biasa saat sudah berbuka puasa.
Aku belajar bahwa rezeki bukan selalu datang dari pasar atau dapur, tapi dari sekitaran kita, dari udara yang kita hirup, dari keikhlasan menerima hidup apa adanya. Di TK nam, aku tidak pernah merasa miskin. Alam selalu menyediakan cukup untuk hidup, asal kita tahu cara bersyukur.
PENINGGALAN MASA LALU DAN RAHASIA TANAH
Di saat bekerja aku melanjutkan eksplorasi, kami sering menemukan benda-benda peninggalan masa lalu: piring, mangkuk, cawan, sendok, bekas peninggalan cina (sengkek) bahkan koin tua bertuliskan VOC dan aksara Arab. Ada juga batu-batu kecil berwarna biru atau hijau yang disebut orang tua sebagai buntet bumi. Dulu aku hanya kagum melihatnya, tapi setelah dewasa aku tahu bahwa itu adalah bagian dari sejarah geologi dan peradaban yang dulu sempat hidup di tanah itu. Namun, di mataku saat kecil, semua itu seperti harta karun. Dunia terasa penuh keajaiban, dan aku adalah penjelajahnya.
Salah satu peninggalan yang paling berharga bagiku adalah uang koin bertuliskan “La ilaha illa Allah” tahun 1803 yang diberikan orang tuaku. Koin itu bagai pengingat bahwa bahkan di antara batu dan tanah, ada jejak manusia yang dulu juga percaya dan berdoa kepada Tuhan yang sama atau dengan kepercayaan masing-masing.
REFLEKSI: ALAM, KESUNYIAN, DAN AKU YANG KINI
Kini, setelah dewasa, setiap kali aku mengingat masa kecilku di TK nam, ada rasa sesak yang sulit dijelaskan. Antara rindu, haru, dan momen kecil karena waktu berjalan begitu cepat. Dulu aku merasa TK nam begitu luas, tapi sekarang tempat itu sudah berubah. Sebagian telah jadi lahan tandus, sebagian lagi kembali ditumbuhi pepohonan. Alam memang tahu cara menyembuhkan dirinya sendiri — sesuatu yang manusia sering lupa.
Aku sering berpikir, mungkin kebahagiaan masa kecil itu bukan karena tempatnya, tapi karena aku dulu hidup selaras dengan caraku sendiri. Tak ada ambisi, tak ada perbandingan, tak ada pencitraan. Aku hanya hidup. Dan ternyata, itu membuatku tenang dan damai.
Kini aku hidup di dunia yang penuh layar dan koneksi, tapi kadang merasa kosong. Aku belajar banyak dari Google, dari dunia digital, dari pengalaman. Tapi tak ada satupun yang bisa menggantikan rasa bahagia dan keindahan saat duduk di sabana TK nam, memandang langit biru dan mengucap “Alhamdulillah” tanpa alasan.
Aku sadar, kebahagiaan sejati bukan hal yang bisa dicari — tapi sesuatu yang muncul ketika kita bersyukur.
PENUTUP: KEMBALI KE TK NAM DI DALAM DIRI
TK nam kini mungkin hanya tinggal kenangan di ingatanku. Tapi di dalam diriku, tempat itu tetap hidup — dalam bentuk ketenangan, rasa syukur, dan keyakinan bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap langkah di hidup ku.
Aku ingin sekali kembali ke sana, bukan untuk menambang atau mencari buah liar lagi, tapi untuk menambang kenangan — menggali kembali rasa damai yang dulu pernah aku punya. Karena di TK nam, aku belajar bahwa meskipun dunia berubah, jiwa yang tenang akan selalu menemukan jalannya pulang.
"Ternyata, kebahagiaan itu tidak pernah pergi. Ia hanya bersembunyi di dalam ingatan seorang anak kecil yang dulu pernah sangat bahagia di area TK nam."
---
🖋 A-M Ra. Pendiri blog Logika dan Intuisi Tersembunyi — penyintas luka yang sedang membangun masa depan lewat tulisan.

Komentar
Posting Komentar