Bukan Baper: Tapi Kenapa Harus Beda?

Potret pelajar saat di tengah keramaian


Ini lanjutan dari tulisan sebelumnya.

Dan kali ini, aku memang tidak berniat sopan.

Karena topiknya juga tidak sopan: kemunafikan yang dipelihara rapi dalam kehidupan sosial kita.

Ada satu pembenaran yang sering terdengar:

“Mulutnya memang kasar, tapi hatinya baik.”

Kalimat ini terdengar bijak, padahal sering kali hanya cara elegan untuk menoleransikan kebiasaan buruk yang tidak mau diubah.

Kita menormalisasi kata-kata seperti:

“Lu ngentot.”

“Lu anjing banget jadi orang.”

“Njirr, kontol, memek.”

“Lu keren banget bangsat.”

“Eh si babi.”

Dipakai ke teman, rekan kerja, influencer, bahkan idola di live streaming game.

Katanya bercanda. Katanya akrab. Katanya jujur.

Tapi sekarang aku mau tanya sesuatu yang sederhana dan tidak enak:

Coba pakai bahasa itu langsung ke orang-orang yang dianggap “penting”.

Ke presiden.

Ke anggota dewan.

Ke gubernur, bupati.

Ke bos perusahaan besar.

Ke jenderal polisi atau panglima TNI.

Secara langsung dihadapannya tanpa lewat komen media sosial lainnya.

Minimal ke Kapolres dulu di daerahmu sendiri.

Pakai kalimat yang sama.

Nada yang sama.

Tanpa emot. Tanpa dalih bercanda.

Apa yang terjadi?

 Langsung berubah, Tiba-tiba lidah jadi manis.

Nada jadi rendah.

Kata-kata jadi rapi.

Bahkan badan ikut membungkuk.

Kenapa?

Kalau memang “mulut kasar tapi hati baik” itu kebenaran universal,

kenapa keberanian itu hanya muncul saat berbicara pada yang setara atau lebih lemah?

Kenapa orang yang mengaku baik tapi kasar  dan apa adanya

masih sempat menimbang:

“Kalau gue bicara begini, karier gue hancur.”

“Kalau aku ngomong kasar, bisa kena pasal pencemaran nama baik.”

Dan merasa cemas atau panik ada Intel dan pasukan elit yang menyamar mengitari sekeliling tempat tinggal.

Berarti masalahnya bukan soal bicara “kasar tapi hati baik.”

Masalahnya soal siapa yang aman untuk direndahkan dan dihinakan.

Lucunya lagi, orang-orang yang di media sosial berisik, galak, merasa paling berani,

sering berubah jadi manusia paling jinak

saat berdiri di depan orang yang punya kuasa.

Senyum kaku.

Badan salah tingkah.

Nada mendadak santun.

Bahkan kadang terlihat seperti siap mengelap sepatu sebelum masuk ruangan

dan menjilati debu jalanan di telapak sepatunya.

Di situ terlihat jelas:

bukan mulutnya jujur yang kasar,

tapi keberaniannya yang selektif.

Tulisan ini bukan untuk mengutuk kata kasar semata.

Ini tentang standar ganda dalam keberanian dan etika.

Kalau kita benar-benar percaya pada kesetaraan manusia,

maka rasa hormat seharusnya tidak bergantung pada jabatan, seragam, atau pangkat.

Dan kalau kita memang mau berubah,

jangan sibuk membela kebiasaan buruk dengan label “niat baik”.

Karena niat baik yang tidak mau memperbaiki cara

hanya akan jadi alasan untuk terus menyakiti.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi orang lain,

tapi untuk membentuk diri sendiri.

Karena kalau bukan dari kita,

untuk anak-anak kita dan generasi setelah kita,

siapa lagi?

Seorang figur publik bisa bicara soal etika,

seorang influencer bisa kampanye soal sopan santun,

tapi kalau kita sendiri malas memanusiakan manusia,

semua itu cuma jadi dekorasi moral.

Dan dunia, seperti biasa,

akan tetap ramai dan liar…

tanpa benar-benar belajar.


---

🖋 A-M Ra. Pendiri blog Logika dan Intuisi Tersembunyi — penyintas luka yang sedang membangun masa depan lewat tulisan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Leon S. Kennedy dan Ada Wong: Hubungan Rumit yang Tidak Pernah Selesai

Jangan Hanya Jadi Katak di Kolam Kecil: Saatnya Tumbuh ke Danau yang Lebih Luas

Logika Mistika di Indonesia: Antara Warisan Budaya dan Minim Literasi

Mengenal Istilah Flying Monkey di Era Sekarang

Memahami Makna Cinta: Saat Logika & Intuisi Bicara

5 Tanda Lingkungan Toxic: Kenali Tandanya dan Jaga Mentalmu Sejak Dini"

“Kekuatan Logika dan Intuisi: Berpikir dalam Diam, Menemukan Jalan yang Tak Terlihat”