Perploncoan: Tradisi yang Dipertahankan atau Ego yang Dibenarkan?
Banyak tindakan di luar dugaan yang berawal dari tradisi senior-junior di tempat kerja, sekolah, maupun lingkungan sosial. Tidak sedikit yang berujung pada tindak kriminal atau gangguan mental.
Perploncoan sering dibela atas nama tradisi. Ia dianggap sebagai bagian dari proses pendewasaan, pembentukan mental, atau cara membangun solidaritas. Kalimat yang paling sering terdengar sederhana: “Kami dulu juga mengalaminya.” Seolah pengalaman pahit di masa lalu otomatis berubah menjadi pembenaran moral di masa kini.
Namun pertanyaannya lebih dalam dari sekadar tradisi. Apakah benar ini soal budaya yang diwariskan? Atau sebenarnya ada sesuatu yang lebih personal dan lebih sunyi: ego?
TRADISI SEBAGAI TAMENG
Tradisi memiliki kekuatan sosial yang besar. Ketika sebuah praktik sudah berlangsung lama, ia cenderung kebal dari kritik. Orang enggan mempertanyakannya karena takut dianggap tidak menghormati sejarah atau kebersamaan.
Masalahnya, tidak semua yang diwariskan layak dipertahankan. Tradisi tanpa refleksi bisa berubah menjadi kebiasaan yang kosong makna. Dalam konteks perploncoan, yang awalnya mungkin dimaksudkan sebagai simbol penerimaan, perlahan bisa bergeser menjadi bentuk dominasi.
Di titik ini, tradisi berfungsi sebagai tameng. Ia membuat tindakan yang sebenarnya merendahkan terasa wajar, bahkan perlu.
EGO DAN RELASI KUASA
Di balik tradisi, sering tersembunyi dinamika kekuasaan. Perploncoan hampir selalu melibatkan hierarki: senior dan junior, lama dan baru, kuat dan rentan.
Ketika seseorang yang dulu pernah ditekan akhirnya berada di posisi atas, muncul dua kemungkinan. Ia memutus rantai itu, atau ia mengulanginya. Di sinilah ego berperan.
Ada dorongan untuk merasa penting. Ada kepuasan terselubung ketika orang lain tunduk. Ada pembenaran batin bahwa penderitaan adalah syarat kedewasaan.
Padahal, solidaritas yang lahir dari rasa takut tidak pernah benar-benar sehat. Ia mungkin menciptakan kepatuhan, tetapi jarang melahirkan rasa hormat yang tulus.
ILUSI PEMBENTUKAN KARAKTER
Salah satu argumen yang sering digunakan adalah bahwa tekanan akan membentuk mental kuat. Namun kekuatan yang dibangun dari penghinaan sering kali menyisakan luka, bukan ketahanan.
Karakter yang matang justru tumbuh dari rasa aman, dari dialog, dari tanggung jawab yang diberikan secara bertahap. Bukan dari tekanan yang bertujuan menjatuhkan harga diri.
Jika tujuan sebuah kelompok adalah membangun kebersamaan, maka metode yang digunakan seharusnya mencerminkan nilai itu. Cara membangun solidaritas akan menentukan kualitas solidaritas itu sendiri.
KEDEWASAAN KOLEKTIF
Pada akhirnya, persoalan perploncoan bukan semata soal tradisi atau ego secara terpisah. Ia adalah kombinasi keduanya. Tradisi memberi legitimasi, ego memberi dorongan.
Masyarakat atau kelompok yang dewasa adalah mereka yang berani mengevaluasi warisan budayanya. Tidak semua yang lama harus dipertahankan. Tidak semua pengalaman pahit harus diwariskan.
Kemajuan tidak diukur dari seberapa keras kita memperlakukan yang baru, tetapi dari seberapa bijak kita menggunakan posisi kita. Di situlah peradaban diuji: bukan ketika kita berada di bawah, tetapi ketika kita berada di atas.
Perploncoan mungkin tampak seperti ritual kecil dalam sebuah institusi. Namun di dalamnya, tersimpan cerminan besar tentang bagaimana manusia memandang kuasa, harga diri, dan tanggung jawab.
PENUTUP
Pada akhirnya, setiap orang yang datang sebagai “yang baru” sejatinya berada dalam posisi paling rentan. Ia seperti bayi yang baru lahir ke dalam sebuah lingkungan sosial. Ia belum memahami ritme, belum mengenal batas, belum tahu bagaimana harus bersikap.
Menekan yang baru dengan kekerasan, fisik maupun psikologis, bukanlah cara mendewasakan. Itu hanya mempercepat hilangnya rasa aman. Dan manusia yang kehilangan rasa aman jarang tumbuh dengan utuh.
Mengajarkan hal positif tidak pernah membutuhkan penghinaan. Membentuk mental tidak pernah menuntut perendahan. Karakter yang kuat lahir dari tanggung jawab dan keteladanan, bukan dari tekanan yang membekas sebagai luka.
Jika sebuah kelompok benar-benar ingin disebut dewasa, maka ukurannya sederhana: apakah mereka mampu menyambut yang baru dengan tegas tanpa merendahkan, dengan disiplin tanpa menyakiti, dengan struktur tanpa menindas.
Karena yang paling menunjukkan kekuatan bukanlah kemampuan menekan, melainkan kemampuan menahan diri saat memiliki kuasa.
---
🖋 A-M Ra. Pendiri blog Logika dan Intuisi Tersembunyi — penyintas luka yang sedang membangun masa depan lewat tulisan.

Komentar
Posting Komentar